Dari jaman dulu sampai sekarang, kalau dengan profesi DOKTER pasti yang kebayang adalah orang yang pinter, banyak duitnya. Gak usah bingung ngelamar kerjaan kemana-mana, profesinya sebagai penyembuh pastinya akan banyak didatangi orang dan pastilah uang mengalir ke kantongnya.
Tadi pagi….sambil nyetir menuju ke kantor, saya mendengarkan siaran sebuah radio swata, yang bincang ringan tentang enterpreneurship. Si penyiar menceritakan bahwa gaung enterpreneursip itu sudah menggema ke seluruh lapisan masyarakat. sampai-sampai si dokter yang sudah mapan secara finansial, masih menumpuk pundi-pundinya dengan cara mengkolaborasikan profesinya dengan celah-celah bisnis yang pastinya makin menggunungkan pundi-pundi emasnya.
simak saja ceritanya :
Seorang dokter spesialis kulit di surabaya, membuka praktek di rumahnya yang tergolong mewah, berlantai 3 dan berhalaman luas. Dari luar, rumah sang dokter nampak biasa-biasa saja seperti layaknya rumah-rumah modern bermodel minimalis lainnya di jalan tersebut.
Tapi saat kita masuk ke dalam, kita sudah dibukakan pintu oleh perempuan muda menggunakan seragam putih bersih “Selamat malam, sudah daftar atau belum? Kalau belum daftar silahkan ke reception, kalau sudah silahkan menuju ruang tunggu”
Berhubung saya sudah daftar, kami menuju ruang tunggu, diiuti oleh suster yang tadi membukakan pintu. Sang suster meminta “Kartu Pasien” dan berkata “Ruang tunggu kami ini juga menyediakan berbagai minuman dan makan ringan, kami menyediakan menu Bakso, aneka Juice, aneka Coffe, snack dan lain-lain. Di sebelah kiri kami ada counter DVD, yang DVD-nya bisa dibeli dan disewa”
Masih dalam expresi takjub, tiba-tiba pintu ruang dokter sudah terbuka, dan ada satu pasien yang memang sudah urutannya dipersilahkan masuk. Kemudian pasien yang sudah selesai diperiksa keluar dan sudah disambut oleh reception yang ada di depan.
Kami sambil menunggu masih ditemani Suster yang tadi, yang berceloteh tak henti-hentinya
“Bapak dan Ibu, nanti bila pasien terakhir tadi sudah keluar, silahkan anda masuk, nomor urut anda ada setelah pasien tadi”.
Setelah berkata demikian, ia meninggalkan kami menuju tempatnya berdiri tadi yaitu di pintu depan.
Sembari menunggu, tanpa sadar kamipun menuruti perkataan suster tadi, sambil mendengarkan alunan musik, kami pun melihat-lihat menumakanan yang terpampang besar di sudut ruangan, agak ke atas sedikit ada TV flat screen seukuran kurang lebih 29 inch.
Selelsai memilih menu, saya memanggil waiters, dan memesan makanan yang kami inginkan.
Tanpa terasa makan sudah ludes, minuman kami tinggal beberapa sedotan lagi juga pasti ludes, tiba-tiba pintu ruang periksa sudah terbuka, pasien terdahulu keluar, kamipun segera berbegas masuk ke ruang dokter.
Sampai di dalam dokter menyambut dengan senyum mengembang ramah sekali. Setelah menanyakan keluhan dan sedikit memeriksa wajah saya yang ditumbuhi beberapa jerawat namun sungguh sangat mengganggu ini, ia pun menuliskan resep. sambil berkata “Obat bisa diambil di lt. 2, kami memiliki apotik, sambil menunggu obat anda bisa menunggu di kafe kami untuk menikmati beberapa jenis makanan dan minuman yang pasti lezat atau bisa juga mampir ke bilik DVD kami, disitu ada beberapa koleksi terbaik dan yang up to date, dapat disewa dan dibeli juga. Bila anda membawa putra-puti kami juga menyediakan kids corner, agar anak-anak bisa nyaman menunggu giliran, ini rsepnya, semoga lekas sembuh. Bila ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut anda bisa sms ke HP saya. Ia berdiri dan menjabat tangan kami berdua dan sigap membukakan pintu
HADUHH…hari gini, saya terkesiap dengan semua layanan yang sungguh tidak pernah saya temui di doktermanapun sebelumnya.
Dia benar-benar 1 stop shopping !!! semuanya dirangkum jadi satu, dan saya mendapatkan kenyamanan, dan…..setelah dihitung-hitung uang yang saya keluarkan lebih dari budget yang saya anggarkan sebelumnya.
Biaya dokter spesialis : Rp. 150.000
Obat : Rp. 359.000
Minum dan makan bakso 2 orang : 36.000
Beli DVD baru 2 keping : 55.000
Total :Rp. 600.000 hanya untuk beberapa jerawat !!!
Saya jadi bingung, ini salah saya yang terlalu boros? atau dokternya yang terlalu pinter??

Recent Comments